Kelembagaan Informal dalam Pengelolaan SDA dan Lingkungan

19 06 2010

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara maritim dengan luas laut 5,8 juta km2 atau mendekati 70% dari luas keseluruhan Negara Indonesia. Selain itu di perairan Indonesia terdapat 33.000 mil persegi terumbu karang atau 1/3 dari luas terumbu karang  dunia. Sekitar 600 dari 800 jenis karang dunia berada di perairan nusantara yang membentuk terumbu karang (Saad, 2008).  Berbagai spesies ikan yang sulit ditemukan di Negara lain terdapat di perairan Indonesia. Kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki oleh Indonesia tentunya harus dilindungi dan dijaga.

Sebagai masyarakat Indonesia tentunya sudah menjadi tanggung jawab kita untuk  menjaga kelestarian sumberdaya alam. Terutama masyarakat pesisir yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Mereka harus bisa mengeksploitasi kekayaan laut secara  efisien dan efektif, agar tidak terjadi kelangkaan sumberdaya perairan.

Saat ini banyak nelayan yang tidak lagi memperdulikan etika pengambilan sumberdaya. Mereka lebih mengutamakan pemenuhan pemakaian hasil, yang akhirnya mereka mengahalalkan segala cara demi mendapatkan hasil tanpa memperdulikan lingkungan. Akibatnya banyak spesies air seperti terumbu karang yang rusak dan keanekaragaman ikan menjadi menurun serta dapat menurunkan produktivitas. Hal ini tentunya harus diikuti dengan suatu lembaga masyarakat yang dapat mengatur cara pengambilan sumberdaya.

1.2 Perumusan Masalah

1. Apa yang menyebabkan terjadinya kerusakan keanekaragaman hayati.

2. Akibat-akibat yang ditimbulkan dengan rusaknya karaang laut.

3. Apa saja kelembagan nonformal yang ada di masyarakat untuk mengatur sistem pemeliharaan laut.

4. Bagaimanakah penerapan dari kelembagaan non formal di dalam masyrakat.

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui penyebab terjadinya kerusakan keanekaragaman hayati.
  2. Mengetahui akibat yang ditimbulkan adanya kerusakan karang laut.
  3. Mengetahui cara menerapkan kelembagaan non formal di dalam masyarakat.

1.4 Kegunaan  Penulisan

Kegunaan penulisan ini adalah untuk memberikan informasi tentang kelembagaan informal yang ada di dalam masyarakat pesisir kepada para mahasiswa dan juga sebagai pemenuhan tugas akhir mata kuliah Pengantar Ekonomi Kelembagaan.

1.5 Metodologi Penulisan

Metodologi yang digunakan dalam penulisan ini adalah merujuk buku-buku dan mencari data-data dan informasi, sehingga akan mengasilkan pertanyaan-pertanyaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Indonesia terletak di pusat Dunia yang sangat terkenal dengan keanekaragaman satwa dan karang. Terumbu karang merupakan ekosistem laut pantai yang paling produktif diperairan tropis. Produktivitas primer rata-rata sekitar 20.000 Kcal/m2 pertahun atau 20 g/m2 pertahun, artinya perairan ini sangat subur. Disebabkan tingginya produktivitas tersebut, maka perairan terumbu karang menjadi tempat penjernihan, pengasuhan dan tempat mencari makan dari kebanyakan ikan dan makhluk lainnya. Dengan sendirinya produktivitas sekunder (ikan) dan biota laut lainnya seperti udang-udangan, octopus, kerang-kerangan dikawasan karang juga sangat tinggi (Imran Zulkarnain, 2008 seperti yang dikutip oleh Sudirman Saad, 2009)

Pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan di Indonesia dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dihadapkan pada kondisi yang bersifat mendua, atau berada dipersimpangan jalan (Dahuri dkk, 2001 seperti yang dikutip oleh Mulyadi, 2005). Di satu pihak, ada beberapa kawasan pesisir yang telah dimanfaatkan (dikembangkan) dengan intensif. Akibatnya,indikasi telah terlampauinya daya dukung atau kapasitas berkelanjutan (potensi lestari) dari ekosistem pesisir dan lautan, seperti pencemaran, tangkap lebih (over fishing), degradasi fisik habitat pesisir, dan abrasi pantai, telah muncul dikawasan-kawasan pesisi. Fenomena ini telah dan masih berlangsun, terutama dikawasan-kawasan pesisir yang padat penduduknya dan tinggi tingkat pembangunannya(Mulyadi, 2005).

Berbagai kegiatan pembangunan yang berlangsung di kawasan pantai dan pesisir akan memunculkan berbagai isu dan masalah sebagai hasil dari penggunan dan pemanfaatan kepentingan dari berbagi pihak secara berlebihan tanpa adanya pengaturan dari pihak-pihak tertentu atau suatu kelembagaan dari masyarakat. Definisi kelembagaan menurut Djogo, Tony dkk, 2003 adalah :

“Suatu tatanan dan pola hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi yang salinh mengikat yang dapat menentukan bentuk hubungan antar manusia atau antar organisasi atau jaringan dan ditentukaan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma, kode etik aturan formal maupun informal untuk pengendalian prilaku social serta insentif untuk bekerjasama dan mencapai tujuan bersama”.

Kebanyakan kelembagaan yang ada di daerah pedesaan adalah kelembagaan yang informal,  seperti kelembagaan masyarakat pesisir. Umumnya kelembagaan informal berupa norma-norma, adat istiadat, nilai-nilai tradisi yang ada di desa.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Penyebab terjadinya kerusakan keanekaragaman hayati

Banyak aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan keanekaragaman hayati. Hal ini di sebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat pesisir. Mereka hanya berorientasi pada hasil tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkan. Selain itu, pertanian di Indonesia masih subsisten yaitu sistem pertanian yang bertujuan untuk memenuhi pertanian keluarga, sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satunya adalah penggunaan teknik dan peralatan penangkapan ikan yang merusak lingkungan, misalnya alat pengumpul ikan harus dibatasi baik jumlah maupun ukuran agar tidak terjadi tangkap lebih dan menganggur daur hidup, bahan peledak, beracun, dan pukat harimau, dapat mematikan organisme lain yang bukan target, penggunaan bom 0,5 kg menghancurkan pada radius 3 meter dan pada radius lebih dari 3 meter[1].

Penyebab lainya yaitu aktivitas kapal dari nelayan dan kegiatan olahraga air serta wisata bahari. Kegiatan ini mengakibatkan lingkungan di sekitar pantai menjadi tercemar, karena tidak adanya pengawasan dari penjaga pantai. Sehingga para wisatawan merasa adanya kebebasan dalam eksploitasi keanekaragaman hayati yang ada.

3.2 Akibat yang ditimbulkan oleh kerusakan keanekaragaman hayati

Kerusakan keanekaragaman hayati mengakibatkan spesies ikan dan produkvitasnya menjadi menurun. Kondisi ini menimbulkan kesejahteraan masyarakat pesisir menjadi menurun karena hasil tangkapan yang diperoleh menjadi berkurang. Demikian pula dengan terumbu karang yang sebelumnya mencapai 600 jenis karang dunia.. Ancaman yang ditimbulkan dari kerusakan keanekaragaman hayati mencakup hal-hal berikut ini[2] :

Manusia

Pemboman yang dilakukan manusia terhadap ekosistem laut menyebabkan  karang mati, terbongkar dan patah-patah. Sedangkan Racun/Potas  menyebabkan Karang mati dan berubah menjadi putih. Selain itu Trawl  dapat menyebabkan Karang mati, terbongkar dan patah-patah. Jaring dapat menyebabkan dasar Karang stress dan patah-patah. Bubu Karang dapat menyebabkan mati, terbongkar dan patah-patah. Jangkar menyebabkan Karang hancur, patah dan terbongkar. Berjalan di atas karang dapat menyebabkan Karang hancur, patah-patah. Bangan batu karang menyebabkan Penurunan pondasi terumbu. Kapal di perairan dangkal menyebabkan Karang patah. Alat pendorong perahu menyebabkan Karang patah. Cindera mata menyebabkan Karang-karang yang indah hilang. Sedimentasi menyebabkan. Karang mati akibat tertutupnya permukaan karang oleh lumpur. Polusi menyebabkan Karang mati dan berubah menjadi putih

A lam

Akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh alam yaitu Bintang laut berduri (COTs), kematian karang dalam skala yang luas, pemutihan karang/Pemanasan Kematian karang – kehilangan keindahan untuk global snorkeling dan menyelam. Timbul berbagai dampak pembangunan tidak hanya bersumber dari dalam wilayah pesisir, tetapi juga dari wilayah laut dan pedalaman. Hal ini merupakan konsekuensi dari fungsi wilayah pesisir sebagai “interface” antara ekosistem darat dan laut, wilayah pesisir (coastal areas) memiliki keterkaitan antara daratan dan laut.

Berbagai dampak lingkungan yang terjadi pada wilayah pesisir merupakan akibat dari kegiatan pembangunan yang dilaksanakan di wilayah daratan beserta perubahan rona lingkungan yang diakibatkannya. Hal ini berdampak pada tingginya tingkat sedimentasi yang mengancam keberadaan padang lamun (sea grass) dan terumbu karang (coral), selain bencana banjir yang menimpa kawasan pesisir. Demikian pula dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di laut lepas, seperti kegiatan pengeboran minyak lepas pantai dan perhubungan laut, juga menimbulkan polusi yang mengancam ekosistem pesisir. Penanggulangan permasalahan yang muncul di wilayah laut dan pesisir ini tidak dapat dilakukan hanya di wilayah pesisir saja, tetapi harus dilakukan mulai dari sumber dampaknya.

3.3 Kelembagan nonformal yang ada di masyarakat untuk mengatur sistem pemeliharaan laut

Berbagai permasalahan yang telah diuraikan di atas merupakan sebagian kecil permasalahan yang ditimbulkan akibat adanya kerusakan lingkungan di masyarakat pesisir. Sehingga perlu adanya kelembagaan yang mengatur sistem pemeliharaan laut, dalam rangka penanggulangan kerusakan lingkungan. Kelembagaan yang dibentuk  dalam masyarakat pesisir merupakan kelembagaan informal yang mencakup adat istiadat dan norma-norma. Dalam masyarakat Bajo, tata nilai dan aturan merupakan lembaga adat yang akan mengatur segenap kegiatan tertentu (Saad, 2008). Tata nilai dan aturan yang ada dalam masyarakat tentunya harus bisa dipatuhi karena sudah menjadi sistem kepercayaan yang mengakar dalam masyarakat. Tentunya dengan di bentuknya kelembagaan masyarakat, dapat memberikan batasan dalam mengeksploitasi hasil laut. Sehingga para nelayan tidak serta merta mengambil ekosistem yang ada di laut.

3.4 Penerapan dari kelembagaan  informal di dalam masyarakat

Penerapan kelembagaan informal dalam masyarakat, terutama masyarakat pesisir tentunya harus dijalankan demi perbaikan ekosistem laut. Seperti pada masyarakat Bajo, mereka mempunyai pondok yang berfungsi sebagai tempat berteduh pada saat cuaca laut memburuk dan juga sebagai tempat mengolah hasil tangkapan (Saad, 2008). Kegiatan kelembagaan yang dilakukan oleh masyarakat bajo, tentunya harus menjadi tolok ukur bagi masyarakat pesisir lainnya. Karena selain menjaga ekosistem laut juga dapat mempererat rasa solidaritas daam masyarakat pesisir.  Dengan dibentuknya kelembagaan, diharapkan dapat melestarikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal di bidang kelautan. Selain itu  diharapkan dapat meningkatkan wawasan masyarakat, mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut. Hal ini dapat memberikan peluang kepada para penyuluh untuk memberikan wawasan kepada masyarakat setempat di dalam kelembagaan tersebut.


[1] (Anonim), 2007, ancaman dan faktor penyebab kerusakan keanekaragaman hayati http://web.ipb.ac.id/~mujizat/index.php?

[2] Menteri permukiman dan prasarana wilayah, 2003, Tinjauan aspek penataan ruang dalam pengelolaan wilayah laut dan pesisir, Dalam seminar Dies Natalis ITS ke-43, Surabaya, 8 oktober 2003.



In Memoriam Albert Einstein

19 06 2010

Siapa tak kenal tokoh yang satu ini, dengan teori relativitasnya yang sangat mendunia. Dia adalah Albert Einstein, seorang fisikawan yang lahir di Ulm, Kerajaan Wuettemberg, Prusia Raya (sekarang Jerman) pada tanggal 14 Maret 1879. Einstein terlahir dari keluarga yahudi, orangtuanya bernama Hermann Einstein dan Pauline Koch, beliau adalah putra sulung adiknya bernama Maja. Ayahnya adalah seorang pedagang kasur bulu, namun pada tahun 1880 bisnis tersebut mengalami kegagalan. Hal ini menyebabkan Hermann beralih menajalankan pekerjaan elektrokimia.

Saat kecil beliau tergolong anak yang pendiam, bahkan beliau terlihat terbelakang karena kemampuan bicaranya lambat dibanding anak-anak kecil seusianya. Pada umur lima tahun, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang “kosong” ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Einstein disekolahkan di sekolah Khatolik dan atas keinginan ibunya beliau belajar biola. Menurut beberapa pendapat,  Einstein menderita penyakin Syndrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme. Einstein mulai belajar matematika pada umur dua belas tahun. Menurut beberapa pendapat beliau mengalami kegagalan dalam bidang matematika. kemudian dengan bantuan dua pamannya mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika.

Pada tahun 1894 keluarganya pindah ke Pavia, Italia (dekat Milan) sedangkan Einstein tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia. Awalnya Einstein ingin masuk dalam sekolah militer namun karena beberapa alasan beliau tidak diterima dalam sekolah tersebut. Kemudian beliau mencona mengikuti tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal, di Zurich) namun mengalami kegagalan. Akhirnya oleh keluarganya, Einstein dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg, dan menjadi tak bekewarganegaraan.

Saat masa kuliahnya di Eidgenössische Technische Hochschule, beliau bertemu dengan Mileva Maric, yang kemudian menjadi istri pertamanya. Pada tahun 1900, dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negar Swiss. Kecintaanya terhadap Mileva Malic tidak disetujui oleh ibunda Einstein karena beberapa alasan. Namun hal ini sepertinya sudah terlanjur, karena Einstein telah mempunyai seorang putri bernama Lieserl yang lahir bulan Januari tahun 1902 hasil hubungannya dengan Mileva. Pada 14 Mei 1904 lahir anak kedua dari pasangan ini, Hans Albert Einstein. Menurut beberapa pendapat Liesers, putri Einstein meninggal karena penyakit yang dideritanya pada usia dua tahun.

Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, namun berkat bantuan dari ayah teman kelasnya Einstein mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss dalah tahun 1902. Di sana, Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengatahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana “menjelaskan dirinya secara benar”. Dia mendapatkan gelar doktor setelah menyerahkan thesis “Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen” (”On a new determination of molecular dimensions”) dalam tahun 1905 dari Universitas Zürich. Di tahun yang sama dia menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian), efek fotoelektrik, dan relativitas spesial) pantas mendapat Penghargaan Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade. Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke “Annalen der Physik”.

Menurut beberapa pendapat Einstein bercerai dengan Mileva dan kemudian menikah dengan keponakannya sendiri yang bernama Elsa. Mereka melangsungkan pernikahan pada tahun 1919. Elsa mempunyai tiga orang anak (Ilse, Margot, dan satu anak lagi telah meninggal dunia). Keluarga Albert Einstein dan Elsa kemudian tinggal di kota Berlin, tetapi pada tahun 1933 mereka pindah dan berimigrasi ke kota Princeton, New Jersey, Amerika Serikat. Tahun 1941, ia mengucapkan sumpah sebagai warga negara Amerika Serikat. Karena ketenaran dan ketulusannya dalam membantu orang lain yang kesulitan, Albert ditawari menjadi presiden Israel yang kedua. Namun jabatan ini ditolaknya karena ia merasa tidak mempunyai kompetensi di bidang itu. Akhirnya pada tanggal 18 April 1955, Albert Einstein meninggal dunia dengan meninggalkan karya besar yang telah mengubah sejarah dunia.



Pentingkah Facebook Itu?

19 06 2010

Facebook merupakan tempat berkomunikasi yang tengah digandrungi

Hari, Tanggal: Rabu, 3 Maret 2010

Asisten : Anies Wahyu Nurmayanti/ I34070020

Astatin Fitriani/ I34060682

oleh masyarakat.  Facebook dibuat oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School diluncurankan pertama kali pada 4 februari dan awalnya hanya untuk siswa Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Berawal

Artikel

Rohayati/I34080087

dari satu orang pengguna,  karena rasa penasaran orang akhirnya facebook mampu merajai segala penjuru.  Saat ini facebook sudah menjadi bagian terpenting dalam berosialisasi, apalagi bagi mahasiswa yang tempat tinggalnya jauh dari kampus, tak terkecuali di IPB. Mengenai pentingnya facebook, tentunya banyak sekali persepsi dari banyak orang. Pertanyaanya apakah kehadiran facebook itu sangat penting, sehingga mampu menghipnotis berjuta-juta umat manusia?.

Kebanyakan dari mahasiswa menggunakan facebook untuk berkomunikasi dengan teman-temannya yang jauh. Seperti yang dituturkan oleh Adit (GM 45) dan Fatim (ESL 45), menurutnya facebook itu penting karena bisa berkomunikasi maupun bersosialisasi dengan banyak orang. Namun ada beberapa mahasiswa yang mengatakan bahwa facebook itu tidak terlalu penting. Seperti yang dituturkan oleh Rahman (ilkom 44), menurutnya facebook itu tidak penting karena sesuatu yang penting itu dapat memberikan manfaat yang besar untuk kedepannya. Meskipun tidak penting, mahasiswa Ilkom itu mengaku bahwa diapun mempunyai facebook. Awalnya karena dibuatkan oleh temannya, namun ia mengaku memiliki facebook hanya untuk refreshing semata. Berbeda lagi dengan Asih (ESL 45) dia mengaku facebook hanya digunakan sebagai sarana mendapatkan informasi dan juga untuk berbagi informasi dengan teman-temannya. Persepsi orang memang berbeda mengenai facebook, tergantung pada kepentingan masing-masing. Namun dari kebanyakan orang walaupun mengatakan facebook tidak penting rata-rata dari mereka mempunyai facebook, karena bagi mereka facebook sudah menjadi trend. Hal itu membuat orang-orang berfikir jika mereka tidak mempunyai facebook berarti mereka ketinggalan zaman.

Saat ini banyak pengguna facebook yang masih di bawah umur 15 tahun, kebanyakan dari mereka menggunakan facebook untuk bermain game online. Mereka tidak peduli apakah facebook itu sebenarnya penting atau tidak, yang penting mereka merasa senang.

Facebook itu memang penting, namun tergantung pada penggunaanya dan juga tergantung pada orang yang memilki. Facebook itu dikatakan penting jika memang dapat memberikan informasi dan bersosialisasi. Namun jika facebook hanya digunakan sebagai game online, ganti status, atau hanay sekedar chatting dapat dikatakan fungsi facebook tidak begitu penting.

Oleh : Rohayati